"Apakah pantas seseorang itu dikatakan berakal, jika dia menjual Surga dengan syahwat yang sesaat?"

Social Icons

"Demi Allah! Eksistensi seorang Pemuda ditentukan oleh Ilmu dan Taqwanya, jika dua hal ini tidak ada, maka sejatinya dia bukanlah pemuda!"
Al-Imam Asy-Syafi'i -rahimahullah-

Pages

Showing posts with label Para Ksatria!. Show all posts
Showing posts with label Para Ksatria!. Show all posts

Saturday, 31 May 2014

Bilal bin Rabah -radhiallahu 'anhu- Sang Mu'azzin Rasulullah


Bilal bin Rabah-radhiallahu 'anhu-
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendengar suara sandalnya di surga.”
Sekarang kita bersama seorang lelaki yang Nabi mendengar suara sandalnya di surga. Dialah orang yang mengumandangkan azan pertama kali di atas Ka’bah di baitil haram. Bahkan, dia adalah lelaki yang dirindui oleh surganya Allah Jalla jalaluh. Sekarang kita bersama lelaki dengan julukan ‘Suara Islam’ Shaut al-Islam.
Tidak seorangpun mendengar nama Bilal–radhiallahu ‘anhu-kecuali dia akan merasakan makna kemuliaan dan ketinggian pada jiwanya. Engkau bahkan hampir tak menjumpai seorang muslimpun, walau berlalu masa dan berbeda tempat, pasti mengenal Bilal. Dialah ‘Shautul Islam’ yang memulai di Mekkah hingga mencapai penjuru dunia: Cina, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika Selatan. Dialah maula Abu Bakar ash-Shiddiq, dia sang Mu’azzin Rasulullah.
Bilal termasuk As-Sabiquunal Awwalun (Orang-orang yang pertama masuk Islam) yang disiksa karena berada di jalan Allah, menyaksikan perang Badar, dan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersaksi padanya atas berita ditentukannya dia sebagai ahli surga.
Lihat, dia masih berjalan di atas bumi tapi disaksikan sebagai penduduk surga. Meskipun begitu beliau tidak merasa sombong. Bahkan semakin memperbanyak amal shaleh dan ketakwaan. Di antara amalan yang sangat beliau jaga dan tekuni adalah wudhu’. Hampir disetiap keadaannya beliau dalam keadaan berwudhu’. Radhiallahu ‘anhu.
Keutamaan Adzan
Sebelum kita melanjutkan kisah beliau, yang terus menggema –Demi Allah- setiap waktu dan kesempatan, marilah kita menyimak beberapa hadits Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam-tentang keutamaan adzan. Agar kita mengetahui bagaimana kedudukan lelaki ini.
Kekasih kita, Muhammad–Shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda: “Barangsiapa yang adzan selama dua belas tahun, maka dia akan masuk surga, dan dituliskan baginya karena adzannya setiap hari enam puluh kebaikan, dan  karena iqamahnya tiga puluh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari jalan Ibnu Umar, Shahih al-Jami’ [2006])
Beliau–Shallallahu ‘alaihi wa sallam--juga bersabda: “Seorang mu’azzin itu diampuni tatkala mengumandangkan suaranya dan pahalanya seperti pahala orang yang shalat bersamanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari jalan Abu Umamah, Shahih al-Jami’ [3466])
Beliau–Shallallahu ‘alaihi wa sallam--bersabda: “Seorang muazzin itu diampuni seukuran suaranya dan bersaksi atasnya setiap yang basah dan yang kering.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i dari jalan Abu Hurairah, Shahih al-Jami’ [4466])
Betapa mulia kedudukan mu’azzin. Bilal-radhiallahu ‘anhu-sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan, akan senantiasa mendapatkan pahala adzan selagi adzan itu masih dikumandangkan hingga hari kiamat!
Kisah Keislamannya
Mari kita mulai kisah yang penuh berkah ini dari awalnya.
Dulu, Bilal adalah seorang budak milik Bani Jumah di Makkah, dan ibunya juga termasuk salah satu budak perempuan mereka.
Konon, beliau mendengar kabar Nabi dari pembicaraan tuannya, Umayyah bin Khalaf–Salah seorang pembesar bani Jumah-bersama kawan-kawannya dan para pembesar dari qabilahnya. Hati mereka telah penuh dengan kegeraman dan kebencian kepada Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam--.
Meskipun begitu, mereka tidak mengingkari sedikitpun keamanahan, kejujuran, kejantanan dan akhlak mulia Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam--serta ketajaman dan kejernihan akal beliau. Semua hal tersebut sampai ke telinga Bilal –radhiallahu ‘anhu- hingga dia merasakan di dalam dirinya bahwa agama ini adalah agama yang haq (benar) dan Nabi ini adalah penuntun jalan yang Allah utus kepada umat itu untuk membebaskannya dari kegelapan Jahiliyyah kepada cahaya Tauhid. Dialah Nabi yang mengajak kepada surganya Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka Bilal menjawab panggilan kebenaran ini dan melapangkan dadanya seluruhnya untuk menerima cahaya ini. Cahaya yang datang dengannya Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam--dari sisi Rabb Semesta alam.
Beliaupun mendatangi Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam--dan mengumumkan keislamannya. Maka dia merasa baru dilahirkan kembali seketika itu.
Semoga Allah meridhai beliau dan juga sekalian shahabat.
______
Diterjemahkan dari Kitab Ashhabu ar Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam Karya Mahmud al-Mishri (Abu ‘Ammar). Hal.386-387. Dengan sedikit penyesuaian.

Friday, 11 April 2014

ABU UBAIDAH BIN AL-JARRAH -radhiallahu 'anhu- "ORANG KEPERCAYAAN UMMAT'


بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
Abu Ubaidah ibnul Jarrah d, seorang sahabat nabi yang mulia. Nama beliau ‘Amir bin ‘Abdillah bin al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al-Harits bin fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Juzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan, al-Qurasyiyy al-Fihriyy al-Makkiyy. Nasab beliau bertemu dengan Nabi s pada Fihr.[1] Beliau d termasuk dalam golongan as-Sabiqunal Awwalun (yang pertama-tama masuk Islam). Beliau juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau seorang penunggang kuda yang telah memimpin beberapa peperangan, di antaranya perang Yarmuk, bersama dengan empat panglima yang lainnya, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Ibnu Hasanah, Khalid bin Walid dan Iyad.[2]
Abu Ubaidah d disifati dengan orang yang memiliki akhlak-akhlak mulia, kelembutan dan kesantunan serta ketawadhu’annya.
Suatu ketika Rasulullah s bersabda tentangnya, “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubidah ibnul Jarrah.”
Abu Ubaidah d juga seorang lelaki yang dikagumi Umar bin al-Khaththab d. Saat berdiskusi dengan Abu Bakar d tentang kekhalifahan, Umar d pun mengusulkan nama Abu Ubaidah. Bahkan hingga setelah beliau wafat, ketika Umar d sedang duduk-duduk dengan sahabat yang lain (saat itu menjabat sebagai khalifah) beliau berkata kepada mereka: “Berangan-anganlah kalian!” Maka seorang dari mereka ada yang berharap memiliki harta simpanan yang banyak untuk diinfakkan. Sebagian lagi berharap mendapat emas yang banyak supaya bisa bersedekah dengannya. Kemudian mereka berkata, “Berangan-anganlah engkau wahai Amirul Mu’minin.” Beliau berkata, “Aku berharap di setiap rumah-rumah ini penunggang kuda seperti Abu Ubaidah.” Kenapa? Karena sedikitnya lelaki perwira yang hidup di suatu masyarakat!!
Sebab satu orang yang berlaku shidiq (benar) terhadap (perintah dan larangan) Allah, berkorban untuk membela aqidah yang diyakininya terkadang dapat merubah keadaan masyarakat secara keseluruhan.
Abu Ubaidah d juga menjadi salah satu model pengamalan aqidah wala’ dan bara’ (loyalitas dan disloyalitas), yaitu saat perang Badar beliau memerangi ayahnya sendiri yang saat itu berperang dari kubu orang kafir. Banyak riwayat-riwayat dari mufassirin yang menunjukkan bahwa ayat berikut turun berkait dengan perbuatan beliau ini.
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,  saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang tersebut adalah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka sendiri. Mereka itulah yang Allah telah menanamkan  keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan Dia memasukkan mereka ke dalam Jannah  yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun puas terhadap (limpahan rahmatNya). Mereka itulah hizbullah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itulah golongan yang beruntung”. (Qs. Al Mujaadilah: 22).

Beliau juga dikenal sebagai orang yang adil, sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah ucapan orang-orang nashara di Syam. Saat Abu Ubaidah d mengembalikan Jizyah mereka karena merasa tak dapat lagi melindungi mereka dari serangan tentara Romawi. Sungguh, keadilan kalian lebih kami sukai daripada kezhaliman penguasa-penguasa kami".
Abu Ubaidah d hanya sedikit meriwayatkan hadits, di antaranya adalah hadits tentang pengabaran Dajjal. Di antara ciri fisik beliau adalah bertubuh kurus dan memiliki jenggot yang tipis. Di antara perkataan yang menunjukkan kezuhudan beliau, Mamar berkata: dari Qatadah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah berkata: Saya berangan-angan menjadi seekor kambing saja, kemudian keluargaku menyembelihku dan memakan dagingku dan meminum kuahku.
Dan berkata Imran bin Husein: Saya berangan-angan bahwa diriku adalah pasir yang diterbangkan angin.[3]
Beliau d wafat pada tahun 18 H saat itu mencapai umur 58 tahun. Semoga Allah meridhai para sahabat yang telah berjuang menyampaikan risalah Islam. Melalui merekalah kita merasakan manisnya nikmat hidayah ini.
Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, juga kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
***
Oleh : Ibnu Surapati


[1] Siyar A’lam an-Nubala’ (2/2640), Imam Az-Zahabi, 2004. (Penerbit: Bait al-Afkar ad-Dauliyyah, Lebanon) Juz Ke-2. Hal. 2107.
[2] Tafsir Ibnu Katsir Juz 4.
[3] Siyar A’lam An-Nubala’. Juz 2 Hal. 2110.

Saturday, 15 March 2014

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu



بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
Pemuda yang cerdas, gagah lagi berani. Pemilik Zulfiqar : pedang bermata dua. Mendapat kemuliaan sebagai ash-shabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam), beliau tercatat sebagai pemeluk Islam pertama dari kalangan anak-anak, yaitu pada umur tujuh tahun (ada yang mengatakan delapan, dan adapula yang mengatakan sepuluh tahun). Nama lengkapnya Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah Abul Hasan dan Husein.
Shahabat yang satu ini mendapat kemuliaan sebagai pendamping Rasulullah s juga sebagai sepupu dan menantunya. Semasa kecil, beliau diasuh oleh Rasulullah s, sementara saudaranya , Ja’far bin Abi Thalib d, diasuh oleh Abbas bin Abdul Muththalib d.
Ali bin Abi Thalib d termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam ali syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah s wafat dalam keadaan ridha kepadanya. Beliau adalah khalifah rasyid yang keempat.
Ketika Abu Bakar d wafat lalu Umar d memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib d termasuk salah seorang sahabat yang membai’at Umar. Ali d selalu bersama Umar d dan memberikan masukan positif kepadanya. Disebutkan bahwa Umar memintanya menjadi qadhi (hakim) pada masa kekhalifahannya. Beliau menyertai Umar bersama para tokoh dari kalangan sahabat ke negeri Syam dan menghadiri khutbah Umar d di al-Jabiyah.
Ketika Umar d ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib d. Lalu mereka menetapkan dua orang calon, yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman d terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali d tetap mendengar dan taat kepada Utsman d.
Beliau termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Badar, yang mana Rasulullah s pernah berkata kepada Umar,
و ما يدريك لعل الله اطلع على أهل بدر فقال اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم
“Tahukah kamu, sesungguhnya Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para peserta perang Badar. Allah mengatakan, ‘Lakukanlah sesukamu sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu’.”[1]
Ali d juga ikut dalam Bai’atur Ridhwan. Allah Ta’ala berfirman,
لقد رضي الله عن المؤمنين إذ يبايعونك تحت الشجرة
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (Al-Fath: 18)
Setelah pintu fitnah roboh (yaitu kematian Umar bin al-Khaththab d), banyak keributan dan fitnah yang terjadi. Di antara fitnah terbesar setelah kematian Utsman d adalah perselisihan Ali dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan dengan ummul mu’minin ‘Aisyah g. Ada juga fitnah Khawarij, mereka yang ghuluw dalam agama sehingga mereka menjadi sesat. Sikap seorang mu’min terhadap perselisihan ini, dengan tidak mencela seorangpun di antara sahabat. Karena mereka adalah adil, dan Allah sudah memilih mereka untuk menemani Rasul-Nya. Tidak pantas jika kita membicarakan perselisihan di antara mereka, kemudian mencelanya. Wallahu a’lam.
Waki’[2] meriwayatkan dari Amru bin Munabbih dari Aufa bin Dalham dari Ali bin Abi Thalib d bahwa beliau berkata, “Tuntutlah ilmu niscaya kamu akan dikenal karenya. Amalkanlah ilmu niscaya kamu akan menjadi ahlinya. Sebab akan datang satu zaman suatu saat nanti yang mana sembilan puluh persen dari kebenaran akan diingkari. Tidak akan selamat darinya kecuali setiap nuwamah[3] yang memberantas penyakit.merekalah imam di atas hidayah dan lentera ilmu, bukan orang yang sembrono dan madzayi’ budzur[4].”
Beliau wafat karena ditikam oleh musuh Allah, al-Fasiq Ibnu Muljam. Akhirnya beliau kembali kepada Rabb-nya. Semoga Allah meridhai para sahabat nabi yang telah menyampaikan risalah Islam ini kepada kita. Aamiin.
***
Oleh : Ibnu Surapati
Dengan referensi utama :kitab Tahdzib al-Bidayah wan Nihayah (Masa Khulafaur Rasyidin) karangan al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) disusun oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami.


[1] Muttafaqun ‘Alaih
[2] Tarikh Dimasyq, 12/380-381 dari jalur Waki’.
[3] Nuwamah maksudnya adalah orang-orang yang menahan diri pada saat terjadi fitnah (pertumpahan darah), ia tidak melibatkan diri sedikitpun. Silahkan lihat Lisanul Arab.
[4] Madzayi’ artinya orang yang suka menyiarkan berita. Budzur artinya orang yang suka membuka rahasia dan tidak dapat menyembunyikannya.

Friday, 7 March 2014

Utsman bin 'Affan Radhiallahu 'anhu



بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
Pemilik dua cahaya, itulah julukan bagi sahabat Rasul yang satu ini. Beliau adalah Abu Amr Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abd Manaf bin Qushai. Menikah dengan dua putri Rasulullah s, pertama dengan Ruqayyah g dan kedua Ummu Kultsum g. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah s pada Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab.
Beliau d juga salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau juga termasuk anggota dewan syura dan khalifah ketiga almahdiyyin yang harus kita ikuti.
Disebutkan dalam sejarah bahwa semasa jahiliyyah, Utsman bin Affan termasuk orang yang paling mulia di antara kaumnya. Beliau memiliki sifat malu yang luar biasa, kata-katanya jernih, indah dan enak didengar. Kaumnya sangat mencintai dan menghormati  beliau, dan tidak pernah tunduk (sujud) kepada berhala sekalipun, tidak pernah melakukan fahisyah sedikitpun, beliau juga tidak meminum khamar di zaman jahiliyyah.[1] Beliau juga dikenal dengan kelembutan dan kedermawanannya.
Utsman bin Affan dmasuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiqd. Beliau adalah orang pertama yang hijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah g, kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Beliau tidak dapat ikut serta pada perang Badar karena sibuk mengurusi putri Rasulullah s (istri beliau) yang sedang sakit. Jadi beliau hanya tinggal di Madinah. Rasulullah memberikan bagian dari harta rampasan dan pahala perang tersebut kepada beliau dan beliau dianggap ikut serta dalam peperangan. Ketika istri beliau meninggal, Rasulullah s menikahkannya dengan adik istrinya yang bernama Ummu Kultsum g yang pada akhirnya juga meninggal ketika masih menjadi istri beliau. Rasulullah s bersabda: “Seandainya aku mempunyai putri lagi, sungguh akan kunikahkan dengan Utsman”. Beliau ikut serta dalam peperang Uhud, Khandaq, perjanjian Hudaibiyah yang pada waktu itu Rasulullah s membai’atkan untuk Utsman dengan tangan beliau sendiri. Utsman bin Affan d juga ikut serta dalam perang Khaibar, Tabuk, dan juga pernah memberikan untuk pasukan ‘usrah sebanyak tiga ratus ekor unta dengan segala perlengkapannya.
Dari Abdurrahman bin Samurahd, bahwa pada suatu hari Utsman bin Affand datang membawa seribu dinar dan meletakkannya di kamar Rasulullah, Rasulullah s bersabda, “Tidak ada dosa lagi bagi Utsman setelah ia melakukan ini (diucapkan dua kali).” (HR. Ahmad, at-Tarmidzi)[2]
Jika Umar bin Khaththabd ditakuti oleh syaitan, maka Utsman bin ‘Affand lain lagi, malaikat malu kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits,
Hidup beliau tidak terlepas dari fitnah, terlebih saat akhir hayat beliau. Hal ini sudah pernah diingatkan oleh Rasulullah s kepadanya, bahwa beliau akan mendapatkan fitnah. Namun, bagaimanapun kerasnya fitnah pada saat itu, beliau tetap di atas kebenaran.
Imam Ahmad berkata, “Affan telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Wuhaib telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Musa bin ‘utbah telah mengatakan kepadaku bahwa ia masuk ke dalam rumah dan Utsman sedang terkepung di dalamnya. Beliau mendengar Abu Hurairah yang meminta izin untuk bicara maka beliau mengizinkannya. Ia berdiri seraya memuji Allah Ta’ala lantas berkata, “Aku mendengar Rasulullah s bersabda,
Khot
‘Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan setelahku nanti –atau beliau berkata perselisihan dan fitnah- salah seorang bertanya, “Siapa yang harus kami ikuti ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ikutilah al-Amin ini dan para sahabatnya.” Sambil menunjuk kepada Utsman.[3]
***
Oleh : Ibnu Surapati



[1] Mausu’ah As-Siyar : Utsman ibn ‘Affan Radhiallahu ‘anhu. (Dar Ibn Katsir : Beirut). Hal. 402.
[2] Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, Ibnu Katsir. (Darul Haq: Jakarta). 2004. Hal. 321.
[3] Al-Musnad, 2/345.

Friday, 28 February 2014

Umar bin al-Khaththab Radhiallahu 'Anhu



بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
‘Umar. Siapa yang tidak kenal manusia yang satu ini. Manusia langit yang Allah jadikan sebagai pendamping Rasulnya dalam menyebarkan risalah Islam. Seorang sahabat yang tegas & keras kepribadiannya, namun hatinya sangatlah lebut. Dengan keislaman beliau Allah menjadikan Islam ini mulia. Dengan keislamannya pula dimulai dakwah secara terang-terangan. Beliaulah Al-Faruq, pemisah antara Kebenaran & Kebathilan. Tidaklah yang dikatakannya kecuali kebenaran. Beliau sahabat yang berhijrah tanpa ada seorangpun yang berani menghalanginya. Saat itu beliau berkata : “Barangsiapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim, maka halangilah aku!”, tapi tidak ada satu pun yang berani.
Nasab Umar bin al-Kaththab
Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-‘Adawi. Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.[1]
Beliau masuk Islam ketika berusia dua puluh tujuh tahun, beliau mengikuti perang Badar dan seluruh peperangan yang terjadi setelahnya bersama Rasulullah s. Beliaulah yang pertama kali digelari Amirul Mukminin. Beliaulah yang pertama kali membuat penanggalan hijriyah, mengumpulkan manusia untuk Shalat Tarawih berjama’ah, orang yang pertama kali berkeliling di malam hari mengontrol masyarakatnya di Madinah, khalifah yang melakukan banyak penaklukkan, yang pertama kali membuat kota-kota, membentuk tentara resmi, membuat sekretariat, menentukan gaji tetap, menetapkan para qadhi (hakim), dan lain sebagainya. [2]
Kalian tahu bagaimana masa kecil Umar? Beliau dibesarkan layaknya anak-anak Quraisy yang lain. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain ialah ia sempat belajar baca-tulis, hal yang sangat langka di kalangan mereka saat itu. Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya 17 orang yang pandai baca-tulis, Umar salah satu dari mereka. Sekarang kita mengatakan bahwa dia termasuk istimewa di antara teman-teman sebayanya. Tetapi, orang-orang Arab masa itu tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.
Beliau terus tumbuh menjadi seorang pemuda yang kekar, cerdas dan gesit. Postur tubuhnya lebih besar dari teman sebayanya, kakinya lebar sehingga cepat ketika berjalan, mampu menunggang kuda & bergulat. Beliau sangat mencolok, kuat dan terkenal dengan sikapnya yang keras.
Beliau pulalah yang dido’akan nabi s agar masuk Islam, yang kemudian Allah mengabulkan do’a nabinya. Beliau sahabat sekaligus mertua Rasulullah s yang menjadi Khalifah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq d dengan gelar Amirul Mu’minin. Beliaulah yang membuka Baitul Maqdis & menaklukkan Persia. Beliau orang yang terkenal dengan manajemen pemerintahannya yang sangat luar biasa, hingga hari ini orang-orang tak pernah berhenti untuk mengkaji sejarah kepemimpinan & kepribadian beliau. Beliau juga menjadi sebab turunnya beberapa ayat Al-Qur’an. Beliau pula yang ditakuti oleh Syaithan, jika Umar melewati suatu jalan, maka Syaithan cepat berganti jalur agar tidak berpapasan dengannya.
Hatinya sangat lembut. Mudah menangis. Hingga dijuluki dengan Dzu Khaththain (pemilik dua garis) yaitu garis panjang di wajahnya bekas aliran air mata. Beliau pernah demam sekian lama ketika secara tak sengaja mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari sebuah rumah tentang masalah azab.
Beliau sangat peka sosial. Beliau orang yang melakukan ronda keliling kota untuk melihat kondisi masyarakatnya secara langsung. Beliaulah yang mengangkat gandung & menanak nasi untuk sebuah keluarga, dalam kisah yang masyhur itu (kisah ibu menanak batu).
Meskipun begitu tingginya kepribadian beliau, tetap memiliki kesalahan sebagai manusia. Untuk itu beliaupun berkata, “semoga Allah merahmati orang yang mau menunjukkan kepadaku segala aibku”. Di saat beliau bersengketa dengan seorang nenek tentang warisan, dan dia dapati ternyata dirinya salah beliau berkata, “Umar salah & wanita itu yang benar.”
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah berkata :
“Beliau adalah orang yang sangat tawadhu’ kepada Allah. Kehidupan & makanannya sangat sederhana. Beliau terkenal sangat tegas dalam urusan Agama Allah. Selalu menambal bajunya dengan kulit, membawa ember di atas kedua pundaknya, dengan wibawanya yang sangat besar, selalu mengendarai keledai tanpa pelana, jarang tertawa & tidak pernah bergurau dengan siapapun. Cincinnya bertuliskan sebuah kalimat : “CUKUPLAH KEMATIAN MENJADI PERINGATAN BAGIMU WAHAI UMAR!”.”
***
Oleh : Ibnu Surapati


[1] Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, Ibnu Katsir. (Darul Haq: Jakarta). 2004. Hal. 168.
[2] Ibid. Hal. 170-171.

Saturday, 22 February 2014

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu 'anhu



بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
Sobat muda sekalian, tokoh kita untuk pertemuan pertama ini adalah seseorang yang sangat tinggi kedudukannya di dalam Islam, seorang lelaki yang hanif, yang mana jika imannya ditimbang dengan iman seluruh umat Islam, maka imannya masih lebih berat, beliau kita kenal dengan julukan ‘Khalifah Rasulullah’, Khalifah pertama kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah, Shahabat sekaligus Mertua Rasulullah, dialah Abdullah bin Abu Quhafah Abu Bakar Ash-Shiddiq d, shahabat rasul yang paling berani, banyak sekali keutamaan beliau yang tercatat indah di dalam sejarah & tertanam kuat di hati kaum muslimin.
Beliau adalah orang yang bersegera menerima dakwah Islam tatkala banyak orang yang memusuhi Islam, beliaulah teman Rasul saat bersembunyi di gua Tsur dari kejaran kafir Quraisy, sampai Allah mengkisahkan peristiwa ini di dalam kitabnya, kitab yang dibaca oleh jutaan kaum muslimin hingga hari kiamat, beliaulah orang yang menyedekahkan seluruh apa yang dia miliki, dan meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya, dialah yang membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, hingga ia pun dijuluki sebagai “Ash-Shiddiq”.
Hadis riwayat Amru bin Ash d: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah  mengutusnya untuk memimpin pasukan tentara Zatussalasil. Aku menemui beliau dan bertanya: Siapakah orang yang paling Anda cintai? Beliau menjawab: Aisyah. Aku bertanya: Dari kaum lelaki? Beliau menjawab: Ayah Aisyah. Aku bertanya: Lalu siapa? Beliau menjawab: Umar. Setelah itu beliau menyebutkan nama beberapa orang sahabat yang lain. (Shahih Muslim No.4396)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri d: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada satu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda: Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara Allah akan memberinya kemewahan dunia atau memberi sesuatu yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya. Setelah itu Abu Bakar tampak menangis kemudian berkata: Kami bersedia menebus engkau dengan bapak dan ibu kami. Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu mengatakan: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam lah hamba yang telah diberikan pilihan itu. Dan Abu Bakar sendiri yang memberitahukan hal itu kepada kami. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya orang yang paling setia kepadaku baik dalam hartanya maupun dalam persahabatannya adalah Abu Bakar. Kalau saja aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih), niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudaraku di dalam Islam. Sungguh tidak akan diciptakan pada mesjid ini sebuah pintu kecil pun kecuali hal itu memang milik Abu Bakar. (Shahih Muslim No.4390)
Oleh : Ibnu Surapati